Kamis, 09 Februari 2012

tulisan anak-anak SMK negeri 2 Depok


Sesuap Nasi dari Sebongkah Aqua

Ibu Kota Jakarta yang disebut sebagai kota metropolitan, memberi kesan yang menjanjikan terhadap orang-orang di perkampungan. Mereka terdorong untuk datang ke Jakarta demi mencari peruntungan dan perbaikan nasib. Biasanya ini terjadi pada hari-hari besar, seperti hari raya Idul Fitri. Orang-orang yang pulang ke kampung halaman membawa sanak-saudara mereka untuk ikut ke Jakarta dan menambah angka pengangguran. Kebanyakan pekerjaan di Jakarta dituntut untuk mempunyai keahlian. Namun sebagian besar para pendatang baru tidak membekali mereka dengan keahlian sehingga sulit mencari pekerjaan.
Tanpa disadari terciptalah pemulung sebagai mata pencaharian. Menjadi pemulung bukanlah harapan dan cita-cita. Tak ada seorang pun yang menginginkan profesi seperti itu. Pemulung biasanya mencari rongsokan atau memungut barang-barang bekas di tempat sampah, jalanan, pinggiran sungai, daerah pertokoan, dan tempat pembuangan sampah akhir. Ada juga yang mencari barang bekas di sekitar rumah penduduk sehingga mereka sering dituduh mencuri. Mereka tidak perduli walaupun terkadang martabatnya di rendahkan. Bahkan ketika cuaca terik dan kulit seperti terpanggang matahari pun juga tidak mereka hiraukan. Karena dengan memulunglah mereka mendapatkan uang untuk menyambung hidup.

Ketika memulung, mereka membawa pancung untuk memudahkan mengambil sampah-sampah di jalanan, lalu sampah itu dikumpulkan ke dalam karung. Setelah barang-barang bekas terkumpul banyak, mereka pergi ke pengepul sampah. Mungkin satu karung botol aqua hanya dihargai beberapa ribu saja, tetapi itu lebih baik dari pada mencari uang dengan menadahkan tangan dipinggiran jalan.
Jangan salahkan mereka yang berprofesi sebagai pemulung. Jika kehadirannya mengganggu kenyamanan pandangan mata masyarakat. Seharusnya pemerintah perduli terhadap nasib mereka yang berprofesi sebagai pemulung. Tetapi terkadangan pemerintah menambah beban mereka dengan adanya pembersihan pemulung dengan alasan mengganggu kenyamanan masyarakat. Seharusnya pemerintah memanfaatkan tenaga pemulung untuk dijadikan tukang sapu jalanan, agar mengurangi beban kehidupan
Kelompok :

  • Putri Adzanti
  • Ratih Kumala Dewi
  • Yunita Rahayu
  • Siti Nurjanah
  • Monika Febriani
  • Setya Nigsih Aziz






Ku ‘Tilang’ Kau Dengan Bismillah..
Tilang. Apa sih sebenarnya tilang itu? Bener gak kalo prosesnya itu sulit? Mau tau jawabannya? Cek it out..
Kita sering mendengar kata tilang. Suatu proses hukum yang menurut sebagian masyarakat hanya mempersulit mereka dalam berkendara. Sebenarnya proses tilang itu merupakan prosedur hukum yang bertujuan untuk menertibkan kelengkapan pengendara lalu lintas dan telah di atur dalam perundang-undangan yang berlaku. Tilang tidak akan dilakukan jika semua pengendara mematuhi peraturan seperti, menyalakan lampu, memakai helm berlabel SNI, memakai celana panjang, memakai jaket dan kelengkapan kendaraan lainnya, termasuk SIM (Surat Ijin Mengemudi). Pada sebagian pelanggar peraturan, biasanya memilih menyuap polisi dengan uang berlipat-lipat dari denda tilang. Padahal, sih, kalo penyuapan ini terbukti, maka penyuap dan polisi yang bersangkutan bisa di hukum penjara dan tentunya lebih berat dari sekedar mengikuti proses tilang yang ada. Karena menyuap polisi atau PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah sebuah perbuatan yang melanggar hukum. Namun dengan modus seperti itu, polisi malah mencari-cari alasan dan menjadikan tilang sebagai “part time”nya untuk mendapatkan uang tambahan. Ditambah opini masyarakat yang beranggapan bahwa mengurus tilang itu sulit. Polisi jadi semakin leluasa kapanpun dan dimanapun melakukan tilang. Padahal tilang seharusnya dilakukan hanya di jalan raya atau jalan-jalan protokol diperkotaan.
            Pengendara yang tidak lengkap atau melanggar peraturan, ketika di stop polisi di jalan pasti hanya bisa pasrah dengan ketakutan mereka akan ‘tilang’. Sebaliknya, polisi yang men-stop itu terlihat sangat sumringah sambil membatin “bismillah, dapat uang tambahan”. Dan akhirnya dengan uang minimal 50ribu, si pengendara yang tidak tertib berlalu lintas atau melanggar bisa selamat dari jerat tilang si polisi. Seharusnya pengendara menyadari akan kesalahannya dengan lebih melengkapi surat-surat dan kelengkapan berkendara. Karna hal tersebut semata-mata demi kebaikkan dan keselamatan pengendara itu sendiri. Namun yang harus kita ketahui, tidak semua polisi seperti itu. Masih banyak polisi yang bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya dan tidak mengorbankan nama baiknya hanya demi uang semata. Kita sebagai masyarakat sudah seharusnya mendukung kelancaran dan ketertiban berlalu lintas dengan mematuhi peraturan yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Karena peraturan di buat untuk di patuhi bukan untuk di langgar.
 Kelompok :
Yuliana Saputri
Nurrahmah Istiani
Melisa 
Miftahul Janah
Sri Harningsih




Suatu potret kehidupan anak jalanan yang mana kehidupannya sangatlah jauh dari sebuah kecukupan, bertolak belakang dengan kehidupan para petinggi Negara yang menyalah gunakan kewajiban-kewajiban mereka (korupsi) demi kepentingan Pribadi.
Karna ulah merka (petinggi Negara), Didin (9) harus menerima kenyataan hidup inim diusianya yang masih sangat dini, ia sudah harus bekerja keras untuk mencari nafkah,yang seharusnya duduk dibangku sekolah.





Iis (39) setiap harinya meminta-minta dijembatan penyebrangan dengan membawa kedua anaknya ia duduk dijembatan ia duduk di sudut jembatan penyebrangan menanti belas kasihan dari orang. Kehidupan seperti ini bukan pilihannya, namun dengan ketiadaan pendidikan mengharuskan ia menjalani semua ini. Saat kami temui Iis pun mau berbagi cerita tentang kehidupannya. Janda muda ini menuturkan “hanya pekerjaan seperti ini mbak saya bias member makan 2 anak saya, saya hanya sendiri mbak, suami saya sudah meninggal “kata Iis  (39).
Setelah kita liahat, masih banyak masyarakat yang sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah seharusnya pemerintah sadar dengan hal ini, lebih memperhatikan masyarakat kecil bukan menhambur-hamburkan uang Negara untuk hal yang tidak bermanfaat.
Keadaan sekarang ini, pemerintah hanya mementingkan kepentingan pribadi mereka yang pada akhirnya menambah angka kemiskinan di Indonesia dan minimnya pendidikan dikalangan masyarakt bawah “yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”.
Dengan keadaan seperti ini, bagaimana Negara ini akan maju? Kalau generasi penerusnya tidak dihiraukan kehidupannya.
“ Hey DPR, buang saja Uang Negara untuk kami “


Judul Liputan : SIANG SEBRANG ISTANA, Lokasi : Terminal Depok, Metode Peliputan :  a.Wawancara Tertutup b. Investigasi, Jenis Liputan : a. Sosial Masyarakat Ketua Liputan : Yosril Damariska, Redaksi Liputan : Semua, Tim Liputan : Nurul Paijah,Rafika Nanda R., Riska Isnaini Nur, Rofiatul Ummah, Septi Putri Y , Yosril Damariska






“ POTRET PENGAMEN JALANAN”
P
engamen adalah seorang yang mendapatkan penghasilan dengan cara menyanyi. Pengamen bukanlah suatu pilihan hidup, terkadang ada pula pengamen yang hanya menyalurkan bakatnya dan hobinya semata.
Menurut para pengamen saat ini mereka hanya bisa mengembangkan bakatnya dengan cara mengamen, disamping itu untuk mengembangkan bakat bermusik tidak harus di dapat dari kursus bermusik saja. Contohnya, para pengamen tersebut dapat mengembangkan bakat bermusiknya secara otodidak. Mereka berfikir lebih baik menjadi pengamen dibandingkan menjadi seorang pengemis, karena menjadi pengamen lebih terlihat usahanya dibandingkan menjadi pengemis yang hanya meminta.
Biasanya pengamen beroperasi ditempat umum, seperti di kopaja p20 lebak bulus-senen misalnya, dan mereka memulai untuk mengais rezeki  pada pagi hingga malam hari.
Meskipun banyak orang yang menganggap rendah pengamen, tetapi mereka tetap percaya diri dan semangat menjalani hidup ini.
Banyak contoh hidup positif yang bisa kita ambil dari seorang pengamen jalanan di Ibu Kota ini, mereka masih mau berusaha untuk bisa bertahan hidup tanpa harus mencuri. Merekapun berusaha untuk mendapatkan rezeki dengan cara yang halal walaupun tidak banyak uang yang didapatkannya perhari.
Pemerintah kurang transparan menanggapi rakyat kecil seperti pengamen. Pemerintah hanya memberikan janji semata, yang hanya mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Tetapi kenyataannya pemerintah hanya mempersulit lapangan pekerjaan dan dengan persyaratan yang terlalu sulit bagi mereka yang kurang dibekali pendidikan. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib pengamen jalanan dengan tidak mempersulit syarat mencari pekerjaan di Ibukota Jakarta, sehingga dengan persyaratan yang begitu sulit terpaksa mereka memilih menjadi seorang pengamen jalanan demi sesuap nasi. Dan seperti itulah potret pengamen jalanan Ibu Kota Jakarta ini.





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar