Sesuap Nasi dari Sebongkah Aqua
Ibu Kota Jakarta yang disebut sebagai kota
metropolitan, memberi kesan yang menjanjikan terhadap orang-orang di
perkampungan. Mereka terdorong untuk datang ke Jakarta demi mencari peruntungan
dan perbaikan nasib. Biasanya ini terjadi pada hari-hari besar, seperti hari
raya Idul Fitri. Orang-orang yang pulang ke kampung halaman membawa
sanak-saudara mereka untuk ikut ke Jakarta dan menambah angka pengangguran.
Kebanyakan pekerjaan di Jakarta dituntut untuk mempunyai keahlian. Namun
sebagian besar para pendatang baru tidak membekali mereka dengan keahlian
sehingga sulit mencari pekerjaan.
Tanpa disadari terciptalah pemulung sebagai mata
pencaharian. Menjadi pemulung bukanlah harapan dan cita-cita. Tak ada seorang
pun yang menginginkan profesi seperti itu. Pemulung biasanya mencari rongsokan
atau memungut barang-barang bekas di tempat sampah, jalanan, pinggiran sungai,
daerah pertokoan, dan tempat pembuangan sampah akhir. Ada juga yang mencari
barang bekas di sekitar rumah penduduk sehingga mereka sering dituduh mencuri.
Mereka tidak perduli walaupun terkadang martabatnya di rendahkan. Bahkan ketika
cuaca terik dan kulit seperti terpanggang matahari pun juga tidak mereka
hiraukan. Karena dengan memulunglah mereka mendapatkan uang untuk menyambung
hidup.
Ketika memulung, mereka membawa pancung untuk
memudahkan mengambil sampah-sampah di jalanan, lalu sampah itu dikumpulkan ke
dalam karung. Setelah barang-barang bekas terkumpul banyak, mereka pergi ke
pengepul sampah. Mungkin satu karung botol aqua hanya dihargai beberapa ribu
saja, tetapi itu lebih baik dari pada mencari uang dengan menadahkan tangan
dipinggiran jalan.
Jangan salahkan mereka yang berprofesi sebagai
pemulung. Jika kehadirannya mengganggu kenyamanan pandangan mata masyarakat.
Seharusnya pemerintah perduli terhadap nasib mereka yang berprofesi sebagai
pemulung. Tetapi terkadangan pemerintah menambah beban mereka dengan adanya
pembersihan pemulung dengan alasan mengganggu kenyamanan masyarakat. Seharusnya
pemerintah memanfaatkan tenaga pemulung untuk dijadikan tukang sapu jalanan,
agar mengurangi beban kehidupanKelompok :
- Putri Adzanti
- Ratih Kumala Dewi
- Yunita Rahayu
- Siti Nurjanah
- Monika Febriani
- Setya Nigsih Aziz
Ku ‘Tilang’ Kau Dengan Bismillah..
Tilang. Apa
sih sebenarnya tilang itu? Bener gak kalo prosesnya itu sulit? Mau tau
jawabannya? Cek it out..
Kita sering
mendengar kata tilang. Suatu proses hukum yang menurut sebagian masyarakat hanya
mempersulit mereka dalam berkendara. Sebenarnya proses tilang itu merupakan
prosedur hukum yang bertujuan untuk menertibkan kelengkapan pengendara lalu
lintas dan telah di atur dalam perundang-undangan yang berlaku. Tilang tidak
akan dilakukan jika semua pengendara mematuhi peraturan seperti, menyalakan
lampu, memakai helm berlabel SNI, memakai celana panjang, memakai jaket dan
kelengkapan kendaraan lainnya, termasuk SIM (Surat Ijin Mengemudi). Pada
sebagian pelanggar peraturan, biasanya memilih menyuap polisi dengan uang
berlipat-lipat dari denda tilang. Padahal, sih, kalo penyuapan ini terbukti,
maka penyuap dan polisi yang bersangkutan bisa di hukum penjara dan tentunya
lebih berat dari sekedar mengikuti proses tilang yang ada. Karena menyuap
polisi atau PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah sebuah perbuatan yang melanggar
hukum. Namun dengan modus seperti itu, polisi malah mencari-cari alasan dan
menjadikan tilang sebagai “part time”nya
untuk mendapatkan uang tambahan. Ditambah opini masyarakat yang beranggapan bahwa
mengurus tilang itu sulit. Polisi jadi semakin leluasa kapanpun dan dimanapun
melakukan tilang. Padahal tilang seharusnya dilakukan hanya di jalan raya atau
jalan-jalan protokol diperkotaan.
Pengendara
yang tidak lengkap atau melanggar peraturan, ketika di stop polisi di jalan pasti hanya bisa pasrah dengan ketakutan
mereka akan ‘tilang’. Sebaliknya, polisi yang men-stop itu terlihat sangat sumringah sambil membatin “bismillah, dapat
uang tambahan”. Dan akhirnya dengan uang minimal 50ribu, si pengendara yang
tidak tertib berlalu lintas atau melanggar bisa selamat dari jerat tilang si
polisi. Seharusnya pengendara menyadari akan kesalahannya dengan lebih
melengkapi surat-surat dan kelengkapan berkendara. Karna hal tersebut
semata-mata demi kebaikkan dan keselamatan pengendara itu sendiri. Namun yang
harus kita ketahui, tidak semua polisi seperti itu. Masih banyak polisi yang
bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya dan tidak mengorbankan nama baiknya
hanya demi uang semata. Kita sebagai masyarakat sudah seharusnya mendukung
kelancaran dan ketertiban berlalu lintas dengan mematuhi peraturan yang telah
di tetapkan oleh pemerintah. Karena peraturan di buat untuk di patuhi bukan
untuk di langgar.
Kelompok :
Yuliana Saputri
Nurrahmah Istiani
Melisa
Miftahul Janah
Sri Harningsih
Suatu potret kehidupan anak jalanan
yang mana kehidupannya sangatlah jauh dari sebuah kecukupan, bertolak belakang
dengan kehidupan para petinggi Negara yang menyalah gunakan kewajiban-kewajiban
mereka (korupsi) demi kepentingan Pribadi.
Karna ulah
merka (petinggi Negara), Didin (9) harus menerima kenyataan hidup inim
diusianya yang masih sangat dini, ia sudah harus bekerja keras untuk mencari
nafkah,yang seharusnya duduk dibangku sekolah.
Iis (39) setiap harinya meminta-minta
dijembatan penyebrangan dengan membawa kedua anaknya ia duduk dijembatan ia
duduk di sudut jembatan penyebrangan menanti belas kasihan dari orang.
Kehidupan seperti ini bukan pilihannya, namun dengan ketiadaan pendidikan
mengharuskan ia menjalani semua ini. Saat kami temui Iis pun mau berbagi cerita
tentang kehidupannya. Janda muda ini menuturkan “hanya pekerjaan seperti ini
mbak saya bias member makan 2 anak saya, saya hanya sendiri mbak, suami saya
sudah meninggal “kata Iis (39).
Setelah kita
liahat, masih banyak masyarakat yang sangat membutuhkan perhatian dari
pemerintah seharusnya pemerintah sadar dengan hal ini, lebih memperhatikan
masyarakat kecil bukan menhambur-hamburkan uang Negara untuk hal yang tidak
bermanfaat.
Keadaan
sekarang ini, pemerintah hanya mementingkan kepentingan pribadi mereka yang
pada akhirnya menambah angka kemiskinan di Indonesia dan minimnya pendidikan
dikalangan masyarakt bawah “yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin
miskin”.
Dengan
keadaan seperti ini, bagaimana Negara ini akan maju? Kalau generasi penerusnya
tidak dihiraukan kehidupannya.
“ Hey DPR,
buang saja Uang Negara untuk kami “
Judul Liputan : SIANG SEBRANG ISTANA, Lokasi : Terminal Depok, Metode Peliputan : a.Wawancara Tertutup b. Investigasi, Jenis Liputan : a. Sosial Masyarakat Ketua Liputan : Yosril Damariska, Redaksi Liputan : Semua, Tim Liputan : Nurul Paijah,Rafika Nanda
R., Riska Isnaini Nur, Rofiatul Ummah, Septi Putri Y , Yosril Damariska
“ POTRET PENGAMEN JALANAN”
P
|
engamen adalah seorang yang mendapatkan penghasilan dengan cara
menyanyi. Pengamen bukanlah suatu pilihan hidup, terkadang ada pula pengamen
yang hanya menyalurkan bakatnya dan hobinya semata.
Menurut para pengamen saat ini mereka hanya bisa mengembangkan
bakatnya dengan cara mengamen, disamping itu untuk mengembangkan bakat bermusik
tidak harus di dapat dari kursus bermusik saja. Contohnya, para pengamen
tersebut dapat mengembangkan bakat bermusiknya secara otodidak. Mereka berfikir
lebih baik menjadi pengamen dibandingkan menjadi seorang pengemis, karena
menjadi pengamen lebih terlihat usahanya dibandingkan menjadi pengemis yang
hanya meminta.
Biasanya pengamen beroperasi ditempat umum, seperti di kopaja p20
lebak bulus-senen misalnya, dan mereka memulai untuk mengais rezeki pada pagi hingga malam hari.
Meskipun banyak orang yang menganggap rendah pengamen, tetapi mereka
tetap percaya diri dan semangat menjalani hidup ini.
Banyak contoh hidup positif yang bisa kita ambil dari seorang pengamen
jalanan di Ibu Kota ini, mereka masih mau berusaha untuk bisa bertahan hidup
tanpa harus mencuri. Merekapun berusaha untuk mendapatkan rezeki dengan cara
yang halal walaupun tidak banyak uang yang didapatkannya perhari.
Pemerintah kurang transparan menanggapi rakyat kecil seperti pengamen.
Pemerintah hanya memberikan janji semata, yang hanya mengurangi kemiskinan dan
pengangguran. Tetapi kenyataannya pemerintah hanya mempersulit lapangan
pekerjaan dan dengan persyaratan yang terlalu sulit bagi mereka yang kurang
dibekali pendidikan. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib pengamen
jalanan dengan tidak mempersulit syarat mencari pekerjaan di Ibukota Jakarta,
sehingga dengan persyaratan yang begitu sulit terpaksa mereka memilih menjadi
seorang pengamen jalanan demi sesuap nasi. Dan seperti itulah potret pengamen
jalanan Ibu Kota Jakarta ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar